1 Comment

++ Sepeda dan Sahabat di Telaga Warna ++

Oleh: Ferry Hakim

 

 

Sebuah sketsa alam terpampang di pelupuk mata. Sebentuk telaga kecil yang airnya makin surut di sesap kemarau dan tergantikan semak2 perdu. Bukit2 teh berpunuk-punuk terbentang hingga kejauhan sementara di belakangnya Gede-Pangrango gagah menjulang menembus langit biru terang. Sungguh sebuah sketsa yang memanjakan mata di Sabtu pagi yang luar biasa cerah itu.

Setelah briefing singkat, 18 pasang roda sepeda yang dikayuh pesepeda lintas usia – yang pernah dipersatukan dalam sebuah benang merah bernama Geologi ITB – mulai menjejak Perkebunan Ciliwung melewati ujian pertama sebuah trek berbukit menanjak melandai hingga pos pertama di tikungan saung 1. Tanpa banyak rintangan kami sampai di stop point pertama, sebuah rehat kecil pun digelar untuk sesi foto bersama. Lokasi ini memang sangat ideal karena merupakan elevasi tertinggi dari keseluruhan trek Telaga Warna 1. Ke arah utara terhampar karpet kebun teh Perkebunan Ciliwung, sementara pandangan ke selatan didominasi komplek volkanik Gede-Pangrango.

Section berikutnya adalah jalur berundulasi naik-turun menyisir kebun teh dan melewati sebuah telaga kecil. Walaupun nafas mulai tersengal, tetapi akhirnya seluruh peserta sukses mencapai jalur yang di akhiri dengan sebuah tanjakan ini yang berujung di SDN Tjikoneng. Salut dan angkat topi kepada semua  Gea, yang walaupun baru pertama ber offroad ria, tapi semangatnya luar biasa. SD Tjikoneng ini adalah satu2nya sekolah di perkebunan Ciliwung ini. Terletak terpencil  persis di batas hutan, dan menaungi murid2 dari 4 desa sekitarnya. Dari desa2 sekitar para murid ini harus menempuh jarak 3 sampai 5 km untuk ke sekolah dan satu-satunya angkutan adalah truk pengangkut teh yang datang pergi setiap pagi dan siang. Sekolah ini didirikan oleh Pak Rudi yang dulunya hanya seorang tukang parkir dan tukang jualan jagung bakar yang prihatin melihat tidak adanya sekolah untuk anak-anak ini. Maka hanya dengan modal terbatas ia nekat mendirikan sekolah yang akhirnya diakui oleh pemerintah sebagai kelas jauh SD Ciburial yang sesungguhnya  yang berjarak 20 km dari Cikoneng tersebut. Atas jasa2 nya Pak Rudi yang kini menjadi guru sekaligus kepala sekolah disana mendapat penghargaan dari pemerintah dan pernah diundang di acara Kick Andy-Metro TV.

Usai rehat besar dengan iringan celoteh ramai murid-murid Cikoneng yang kebetulan pas bubaran sekolah, kami pun melanjutkan perjalanan. Namun sebelumnya kami mendapat kabar bahwa jalan perkebunan di depan sana terputus karena longsor, sehingga support dan evacuation car tidak bisa mengikuti perjalanan dan harus balik arah ke jalan raya. Berarti ini adalah titik dimana peserta harus memutuskan, sekali pedal dikayuh pantang mundur kebelakang. Dan rupanya semua goweser mantap untuk lanjut terus tanpa didampingi support car. Kamipun lanjut melahap jalur mayoritas turunan dengan permukaan makadam hingga akhirnya sampai di pertigaan batas hutan. Rencana awalnya, mengingat adanya beberapa MTB-ers pemula,  kami hanya akan melipir jalan perkebunan. Tapi saya salah, ini GEA bung ! Saat diberi pilihan jalur yang mudah atau yang menantang, kami sepakat menunjuk lurus ke dalam hutan. Maka, kamipun mulai menyusuri jalur setapak singletrek tanah masuk ke dalam hutan pinus.

Disinilah tantangan terbesar yang harus dilewati para goweser. Jalur tanah sempit yang menurun curam dihiasi dengan lika liku pohon pinus dan akar2 melintang plus jurang curam di sisi kanan praktis membuat seluruh konsentrasi terfokus dan harus ekstra waspada. Walaupun sudah berkali-kali peringatan untuk berhati2 dikumandangkan, namun akhirnya kejadian juga saat Edo terpaksa kehilangan handling dan jumpalitan sekian meter dengan sedikit ‘oleh-oleh’ di ujung bibir. Setelah sedikit evaluasi dan pemeriksaan, ybs masih mantap untuk melanjutkan, maka perjalanan dilanjutkan hingga akhirnya kami semua lolos dari tantangan jalur curam hutan pinus.

Seksi terakhir perjalanan ini adalah bonus jalur menurun keluar masuk kampung, gang-gang kecil, anak2 tangga dan persawahan hingga akhirnya tembus kembali di Jalan Raya Puncak untuk kemudian finish di Raffles Resto. Sepiring Nasi Timbel komplit diiringi hiburan musik oleh penyanyi yang aduhai menjadi hidangan penutup acara hari itu. Terngiang pula petuah pak Waketum – Ula ’83 sebelum pulang, “..perlahan tapi pasti dan terus menerus akan terbangun solidaritas dan kebersamaan serta kepedulian sesama alumni dlm membangun negeri… teruskan..”.

SEPEDA dan SAHABAT …..dua kata yang berbaur menjadi kenangan yang mewarnai benak kami hari itu.

 

Sampai jumpa di gowes bareng berikutnya….

 

salam

Batavia, Oktober 2011

 

FH

 

http://www.youtube.com/watch?v=w0fmKTNAxGE

About simulacra76

kelana jenggala | memotret & menulis untuk menghidupi anak istri, tapi suatu hari pingin juga jadi penjual kopi | meldamayanto@gmail.com

One comment on “++ Sepeda dan Sahabat di Telaga Warna ++

  1. wahh hahahaha mantab juga memang om, top buat artikelnya ya

    sekalian perkenalkan nih, kami MAGMA™ Joe Sport Indonesia. Adalah sebuah perusahaan pabrik jersey berbagai macam olahraga seperti sepeda, bola, futsal, lari, renang, dan lain lain.. kami akan update di blog kami magmajoesport.blogspot.com

    untuk kontak person dapat hubungi kami melewati
    Supiyan (Ucup) : +62 857-1441-7705
    Leo Kurniawan : +62 812-1013-4948
    Telpon Kantor :
    +62 21-8795-3820
    +62 21-8795-3821
    +62 21-8795-3818 (fax)
    Email: magmajoesport@gmail.com
    FB : Magma Joesport
    Alamat :Jl. Anyar No. 35 Kec. Leuwinutug, Kab. Bogor

    terimakasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: