Leave a comment

++ Sepenggal Sketsa Sederhana dari Pdk. Pemburu ++

Pondok Pemburu, sebuah nama yang bisa menggetarkan jiwa. Setiap yang mendengar namanya tentu akan dengan mudah mengkonotasikannya sebagai sebuah tempat yang penuh kekerasan, banyak tantangan, berhiaskan halang rintang, dan penghuninya adalah banyak orang dengan naluri pencabut nyawa.  Namun realitas mengatakan lain saat kami berbelas-belas menyambangi tempat itu akhir pekan kemarin. Bagi kami Pondok Pemburu adalah sebuah surga kecil di tengah hutan belantara, sebuah oase kaki gunung yang menjanjikan harapan sekaligus memberikan kekuatan untuk mengiringi derap roda perjalanan hingga selesai dengan membawa banyak kenangan.

Tentunya kita tahu, selalu ada sebuah awal mula. Hitungan senantiasa bermula dari angka pertama. Setiap pencapaian mustahil datang secara instan. Dan seperti biasa, sebuah petualangan selalu berangkat dari hal-hal sederhana. Dengan diawali sebuah doa, sejejak jalan aspal setengah menanjak mengantar deru nafas kami yang pertama. Tetapi bahkan di rute pembuka ini pun kita sudah merasakan hangatnya nostalgia. Angin pagi yang menerpa langsung muka, cahaya matahari mengusap kulit, tegur sapa kawan lama, cipratan air dari genangan pinggir jalan, dan seluruh renik kehidupan yang kami jumpa, semuanya menciptakan perbedaan dari rutinitas hari-hari sebelumnya.

Medan semakin berat saat tapak muka aspal berganti jalur tanah yang tetap menanjak. Bias-bias air sisa hujan semalam menambah tantangan akibat licinnya tanah vulkanik merah. Namun itu belum seberapa ternyata, semakin ke depan, jalur makin menantang. Tanjakan semakin terjal, tanah merah berganti dengan lempung, lanau dan batu pasir kehijauan bagian dari Formasi Cisubuh yang lapisannya hampir tegak. Beberapa pit stop dadakan pun digelar sekedar untuk memberi jeda jantung dan otot paha. Dan puncak tantangan kami yang sebenarnya adalah beberapa ratus meter menjelang Pondok Pemburu, dimana bongkah2 andesit sebesar kepala menyeruak di hamparan permukaan trek yang tetap menanjak. Maka tak ada satupun yang bisa bertahan di atas roda, semua kompak mendorong sepeda bak dikomando satu suara. Suara nafas dan bunyi  tapak kaki menjadi panduan kami di tengah rimba. Setiap tarikan nafas yang mengisi celah dan relung paru berongga serasa sangat berbeda dengan udara Jakarta. Tiap meter elevasi yang berhasil diraih adalah refleksi pencapaian diri dan serasa memberi tambahan energi. Hingga akhirnya sebuah atap pondokan terlihat di kejauhan. Ya itulah Pondok Pemburu tujuan kami.

Sebuah rumah kayu semi panggung nan asri di tengah belantara. Ia nampak bersahaja dilingkari pegunungan lebat yang hijau. Halamannya luas dengan hamparan rumput hijau yang terawat. Di beberapa tempat menyembul bongkah2 andesit menjadikannya sculpture alami nan unik. Beranda panggungnya cukup luas untuk tempat kami semua merebahkan diri melepaskan penat. Cahaya matahari sepenggalah melukiskan bayangan kita pada dinding rumah kayu. Suara serangga, gemericik air pegunungan dan gerak daunan perdu karena hembusan angin itu telah membentuk orkestra alam yang tak terkira.  Betapa syukur tak habis-habis karena pesona semacam ini bisa kami nikmati dengan leluasa. Gratis. Bahwa setelah ini laju sepeda kami akan kembali tersendat-sendat, tak ada keluhan untuk itu. Pak Yus, pemilik rumah itu sangat ramah, seteko teh manis hangat terasa nikmat, beliau bahkan memasak stok 4 bungkus  mie instant terakhir untuk kami yang kelaparan. Sebuah ketulusan yang mengagumkan.

Setelah cukup rehat, kini seluruh pancaindera kami mampu mencecap dan menafsir denyut kehidupan dengan lebih jernih. Dengan keriangan yang menakjubkan, perjalanan dilanjutkan. Dan ternyata sisa perjalanan hari itu adalah bonus turunan tak terkira sampai titik akhir. Roda-roda kami berputar cepat melahap jalur turunan dari Pondok Pemburu-Megamendung yang beralaskan bebatuan, tanah, singletrek, makadam, aspal rusak dan berbagai variasi yang bahkan kami pun lupa karena  terlalu asyik menikmatinya. Gradasi hutan belantara, rerimbunan pinus, semak dan perdu, kebun-kebun singkong, sawah bertingkat, perkampungan pinggir kota mengantar kami hingga kembali menyentuh peradaban modern Sentul City. Lebih dari 30 km turunan non stop yang 100% gowesable menjadi puncak ekstasi kami hari ini. Etape terakhir menyusuri jalan desa di pinggir tol Jagorawi ke arah Ibukota menambah senyum kami melihat ribuan lampu mobil yang terjebak macet memanjang tak putus-putus menuju Puncak. Cahayanya menyusun formasi kedip-kedip yang masuk menyelinap dalam gerimis berkabut. Sebuah cerminan kesumpekan dan keresahan para penumpangnya yang berdenyar-denyar memburu sepercik jeda di luar kota. Sebuah “luar kota” yang kadang absurd. Sebab kini mereka kembali bergulat dengan sesuatu yang ingin mereka tinggalkan: kemacetan, keramaian dan ketergesaan. Sementara kami sudah kembali bersiap pulang bersua dengan sanak keluarga dan handai taulan.

Engkau tahu kawan, ketika sampai kembali di rumah, kita telah menempuh perjalanan ‘hanya’ 40 kilometer. Tetapi ini adalah perjalanan penuh gelak tawa, cerita dan nostalgi laksana petualangan-petualangan lain yang sudah (dan akan) terjadi lagi.

salam

Batavia – Penghujung Mei 2011
FH

About simulacra76

kelana jenggala | memotret & menulis untuk menghidupi anak istri, tapi suatu hari pingin juga jadi penjual kopi | meldamayanto@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: