1 Comment

++ Jangan Dulu Mati Sebelum Ke Dewata ++ oleh: Ferry Hakim

Mungkin judul di atas terlalu berlebihan bagi kebanyakan awam. Tapi tidak
untuk 24 orang yang kemarin Sabtu ikut bersepeda kesana.

Kampung Dewata…sebuah desa nun jauh disana yang terletak di dasar lembah, dikelilingi barisan pegunungan tegak menjulang. Namun dari keterpencilannya,
muncul sebuah kesahajaan. Gambaran sebuah desa yang makmur, gemah ripah loh
jinawi..aman tenterem kerta raharja. Hijaunya pohon pinus dan pucuk2 teh yang subur melingkarinya. Saluran irigasi teknologi tinggi dengan reservoir
bertingkat dan viaduct yang menjangkau tiap sudut. Sistem sanitasi komunal dengan keberadaan “sharing toilet” setiap beberapa rumah. Plus jaringan
listrik swasembada yang dibangkitkan oleh mikro hidropower yang menjamin
pasokan energi yang berkesinambungan – bahkan saat sebagian rumah2 di Ibukota mati lampu. Semua hal itu benar2 membersitkan kesan dari trip
bersepeda kemarin.

Dengan menyebut nama Illahi kami memulai perjalanan dari Kawah Putih sekitar jam 9 pagi menembus hutan dan kebun teh Gn. Patuha. Cuaca masih cerah dan langit biru sesekali menyembul diantara awan putih. Trek didominasi turunan dengan permukaan kerikil dan tanah. Jalur yang mudah ditambah pemandangan yang memukau membuat semuanya terasa indah. Senda gurau, celotehan dan tawa
riang nostalgia terdengar riuh rendah silih berganti. Sungguh sebuah awal yang sempurna…
Photobucket

Photobucket

Menjelang Patuha Geothermal Project, lagi-lagi kami disuguhi sebuah pemandangan luar biasa. Meliuk-liuk diantara kebun teh di atas singletrek berumput dengan latar belakang kepulan asap sumur geothermal dan suara dahsyat yang memekakkan telinga benar2 memberikan sensasi yang tiada dua.

Saat kami benar2 sampai di lokasi geothermal, semburat kagum semakin membuncah membayangkan kedahsyatan energi panas bumi yang tak pernah
berhenti sedetik pun sekaligus terucap pujian kebesaran kepada Sang Pencipta.
Photobucket

Selepas stasiun geothermal, hujan pun mulai turun. Sehingga perjalanan melambat karena kami butuh konsentrasi ekstra untuk handling sepeda di jalan
berbatu. Mayoritas trek masih menurun dengan sedikit variasi tanjakan2 kecil. Hingga akhirnya kami masuk ke jalur hutan kembali. Section hutan kali ini sangat panjang, sekaligus menjadi gerbang pengantar kami menuju Kampung Dewata yang berada dibalik hutan sebelah sana. Permukaan trek yang berubah
menjadi bongkah2 tajam andesit sebesar kepala ditambah hujan yang semakin deras dan jalan yang terus menurun benar2 melelahkan dan butuh skill ekstra.

Bayangkan saja, odometer di GPS mencatat hampir 16 km jalur turunan sejak masuk hutan sampai Dewata. Karena tangan yang semakin lelah menahan rem laju
sepeda dan waktu yang semakin mendekati jam makan siang, sebuah kecelakaan terjadi. Seorang peserta terpeleset dan terpelanting dari sepedanya di tengah rimba belantara. Alhasil sebuah sodetan sepanjang 5 cm di pelipis menyemburkan darah segar. Sebuah P3K darurat pun digelar dan karena luka yang cukup dalam dan darah yang tak kunjung berhenti akhirnya diputuskan
untuk di evakuasi kembali ke Bandung menggunakan truk yang kami sewa dari Dewata.

Sebuah istirahat panjang plus makan siang dan sholat pun digelar di Kampung Dewata. Selepas makan siang, perjalanan dilanjutkan dengan total 22 orang
peserta. Kali ini etape berat dimulai…

Jalan menanjak tiada henti dengan hujan yang tak kunjung reda ditambah kabut tipis yang mulai turun mengiringi perjalanan kami. Kampung Dewata semakin terlihat kecil dibawah sana seiring roda2 kami yang perlahan tapi pasti
meretas jalur tanjakan ini. Jalur ini terasa panjang sekali..energi pun
mulai terkuras dan hamparan tanjakan tiada putus membuat nyali kami kembali diuji. Namun itu semua hanyalah awal dari sebuah penderitaan sesungguhnya.
Setelah lebih dari 2 jam nanjak tiada henti, sampailah kami di batas hutan. GPS menunjukkan arah perjalanan tepat ke dalam hutan dengan jalur setapak yang menanjak curam. Ya..kesanalah kami harus melintas apabila hendak menuju
ke Situ Cileunca, Pangalengan.

Jalur ini adalah satu2nya interkoneksi menuju dataran Pangalengan. Biasa dipakai penduduk Kampung Dewata berjalan kaki menuju ke sana. Jalur tanah yang menanjak curam membelah hutan belantara di kiri kanan. Satu persatu kami mulai masuk mendorong sepeda ke jalur tersebut. Stamina yang mulai
drop, dingin yang kian menusuk akibat baju yang basah..kering..hingga basah
lagi akibat hujan tiada henti semakin membuat perjalanan terasa berat. Tanah yang licin berubah menjadi medan berlumpur sehingga untuk maju selangkah
saja sulit, apalagi ini di medan menanjak curam. Hilang sudah semua suara keceriaan.. berusaha berkonsentrasi dan menyimpan energi hanya dengan satu tujan untuk lekas mapai di puncak dan keluar dari hutan. Sementara di
kejauhan suara siamang bersahut-sahutan seakan mengejek kami2 yang tengah kepayahan. Setapak demi setapak badan dan sepeda kami bawa maju ke atas. Sementara satu persatu peserta mulai bermasalah. Ada yang keram otot di kaki, paha dan tangan. Ada yang mata mulai berkunang-kunang. Bahkan ada yang mulai
menggigil tak pasti karena terpaan dingin yang tiada henti. Sementara semua baju ganti , walaupun sudah disimpan rapi tetap basah tak terperi. Saat itulah sebuah kerjasama dari semua peserta yang akan menentukan. Siapa kawan
dan siapa sahabat sejati akan terlihat di situasi ini. Bahu membahu kami membantu kawan yang kesulitan, hingga akhirnya hampir pukul 5 sore kami semua baru berhasil menembus jalur tanjakan tadi. Sungguh sebuah usaha berjam-jam yang melelahkan melewati Tanjakan Jahanam -demikian kami
akhirnya menamakannya.
Photobucket

Etape terakhir sebenarnya adalah jalur menurun dari Desa Batubelah menuju Situ Cileunca yang sudah terlihat di kejauhan. Namun karena sudah terlalu lelah dan sang surya yang mulai menghilang ditelan senja membuat penderitaan
tak kalah menantang. Untunglah kami sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk, lampu2 sepeda pun mulai dinyalakan, dan ditengah
kegelapan dan keheningan malam, kami turun melipir Perkebunan Malabar menuju finish point di Situ Cileunca. Dingin menggigil sudah tak terasa saat
terpaan angin gunung menyapu wajah kami karena hanya satu yang ada di kepala untuk segera sampai di Situ Cileunca.

Sekira menjelang jam 7 malam – dari estimasi awal pukul 4 sore-, akhirnya seluruh peserta sampai di titik akhir. Dan seperti biasa, tiba-tiba seluruh perjuangan dan penderitaan terasa hilang begitu saja. Yang ada hanyalah sebuah kepuasan menuntaskan sebuah tantangan bersama sobat dan kawan. Gelak tawa ceria dan celotehan kembali ramai membahas segala suka dan duka
perjalanan tadi sambil menyeruput teh manis dan sepotong singkong hangat
yang malam itu berasa bagai cokelat…

Sungguh 10 jam perjalanan luar biasa yang berhasil diselesaikan bersama
kawan2 saya yang tak kalah luar biasanya……….

“The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort
and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.”
(Martin Luther King Jr.)

Salam

Bandoeng, akhir November 2009,

FH

PS : Foto & imaji kreatif lainnya bisa ditengok di 4 album2 berikut :

http://www.facebook.com/album.php?aid=2040821&id=1119063654&ref=mf

http://www.facebook.com/album.php?aid=2044122&id=1492664908&ref=mf

http://www.facebook.com/album.php?aid=138509&id=599282396&ref=mf

About simulacra76

kelana jenggala | memotret & menulis untuk menghidupi anak istri, tapi suatu hari pingin juga jadi penjual kopi | meldamayanto@gmail.com

One comment on “++ Jangan Dulu Mati Sebelum Ke Dewata ++ oleh: Ferry Hakim

  1. […] Selamat menikmati foto-foto berikut ini. Dan untuk laporan perjalanannya silahkan klik di sini. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: