Leave a comment

“RA I’m In Love”, oleh: Feldani Effendi

Ajakan seorang teman lama sewaktu di SMA 70 untuk bersepeda menuruni puncak gunung tampaknya sangat sulit untuk ditampik. Apalagi lokasi yang akan dituruni tidak terlalu jauh dari Jakarta tepatnya daerah Rindu Alam (RA), Puncak, Bogor yang konon menjadi lokasi atau salah satu destinasi para dengkulers alias penikmat sepeda gunung (MTB).
Hanya melalui komunikasi di milis akhirnya rencana menuruni sang legenda RA sampai juga pada hari H yaitu tanggal 24 Januari 2010. Tepat pukul 05:10 pagi saya telah tiba di lokasi base camp tepatnya di rumah sang kawan lama tersebut, Meldi. Tepatnya di pakubuwono. Cuaca gelap pagi subuh masih menyelimuti tapi kehidupan tampaknya sudah dimulai bagi beberapa orang. Ada yang bersepada santai atau para pedagang kaki yang bersiap-siap membuka lapaknya di kisaran bilangan senayan. Dan bagi beberapa orang juga ternyata masih belum mengakhiri kegiatan begadangnya. Mereka masih terlihat duduk-dudk santai di Circle K.

Matikan mesin mobil dan celingak celinguk ternyata masih belum ada kawan-kawan lainnya lalu saya mencoba menelepon salah satu kawan tersebut maklum sang tuan rumah tidak bisa dihubungi. Akhirnya dengan bantuan kawan melalui fasilitas pesan singkat yang popular yaitu BBM akhirnya Meldi keluar rumah untuk menemui saya.
“Hai Mel, gue kepagian yah?”….sapa gue ke meldi (hehe…bukannya nanya apa kabar gitu??) Anyway….Sambil ditemani secangkir kopi susu dan pembicaraan ringan dengan meldi akhirnya satu demi satu kawan lainnya tiba di lokasi. Djuned, Erwin, Nugroho atau nama bekennya O’o, Tiki dan Muti. Kita bersiap-siap untuk loading sepeda kita masing-masing di kendaraan Kijang-nya O’o.

Singkat cerita, setelah semua beres kita pun beranjak menuju lokasi pukul 6.30. Menuju daerah puncak pagi itu tidak terlalu ramai dan kita pun berhasil menempuh dengan catatan waktu kurang lebih 1 jam saja. Keluar tol jagorawi mobil di arahkan menuju tempat parkiran dekat lampu merah gadog tepatnya dibawah billboard Taman Safari. Saat itu parkiran tersebut tidak terlalu ramai maklum mungkin karena hari minggu.

Beres-beres…satu per satu mengeluarkan sepeda dan ban dilanjutkan dengan mengecek segala perlengkapan mulai dari pakaian, helm hingga pengecekan ban yang harus sesuai dengan tekanannya. Selagi melakukan persiapan satu kawan mulai tawar menawar dengan pihak transporter alias angkot yang akan membawa kita dan sepeda menuju Rindu Alam dimana aktifitas bersepeda akan dimulai. Cukup sengit proses tawar menawarnya akhirnya kita sepakat membayar 80 ribu rupiah untuk satu unit transporter dan kita menggunakan dua unit untuk mengangkut 7 sepeda 14 ban dan 7 orang.

Sang supir membantu kita untuk memasukan sepeda ke masing-masing angkot dan tepat pukul 8.30 kita sudah beranjak meninggalkan parkiran menuju RA. Memakan waktu kurang lebih 40 menit sampailah kita di lokasi pemberhentian RA tepatnya kira-kira 70 meteran setelah restoran Rindu Alam dan di sebelah kanan. Rombongan pertama tiba dan menyusul rombongan kedua. Persiapan terakhir dilakukan lagi seperti memasang ban, memberi cairan pelumas pada rantai sepeda supaya tidak keset, merapihkan yang perlu dirapihkan hingga memakai sun block (cuaca sangat cerah sekali alias mataharinya cukup menyengat). Di lokasi start juga terdapat beberapa rombongan yang akan melakukan hal yang sama dan mereka persiapannya lebih kepada makan hehehehhe…

Oke, akhirnya semua selesai dalam persiapannya dan rombongan tujuh orang siap untuk ke garis start di samping warung. Dengan membayar sekitar 15.000 (masing-masing sekitar 2.000) kita menuju lintasan dan sebelumnya Meldi memimpin doa bersama semoga perjalanan petualangan kita tidak mengalami masalah yang fatal.
Satu per satu sang genjoters menuruni lintasan dengan semangat tapi tetap alert alias hati-hati jangan sampai kebablasan karena bisa gelosor hingga jalur aspal yang dibawahnya….ih serem. Suasana perjalanan sangat damai sekali dengan cuaca yang bersahabat sambil ngobrol dan sekali-sekali kita berhenti di lokasi yang latar belakangnya terbentang jajaran kebun teh yang menghijau bagaikan permadani.

Sesekali lintasan menyempit, berbatu-batu hingga melewati genangan mata air yang sejuk. Semua melibasnya semangat dengan gayanya masing-masing. Kadang kita perlu untuk menuntun karena jalur tidak mungkin untuk digowes hingga ada yang untuk menjaga kenyamannya membuka sepatu dan telanjang kaki menyebrangi jalur mata air tersebut yang dalamnya sebatas betis kaki. Sementara salah satu rekan berinisiatif untuk mengisi ulang airnya dengan mata air sejuk tersebut. Good idea…saya juga melakukan hal yang sama.
Lanjut…turunan demi turunan, aneka lintasan terbentang bagaikan hidangan menu di warteg yang beraneka ragam yang harus kita nikmati. Klimaksnya adalah di salah satu turunan yang didominasi batu-batuan. Kita re-grouping dan melihat lintasan dengan hati-hati. Sambil mempelajari kira-kira jalur mana yang akan dipakai tiba-tiba ada rombongan tiga orang yang menggunakan sepeda khusus downhill. Kebenaran, akhirnya kita melihat mereka melakukannya dan mencontek jalur yang telah diterabas mereka apalagi salah satu dari mereka melakukannya berulang-ulang sehingga kita cukup hapal untuk mengingat jalurnya.

Tapi apa boleh buat, ternyata apa yang sudah kita lihat dan kita pikir kita sudah paham ternyata memang masih banyak yang salah alias tidak bisa kita menuruninya. Kemungkinan karena sepeda kita yang berjenis Hard Tail sehingga memang sulit menjaga keseimbangan pada lintasan menukik berbatu seperti itu.
Akhirnya kita pasrah dan menuntun sepeda kebawah adalah keputusan yang paling bijak untuk melintasinya.

Satu demi satu kawan-kawan selamat hingga dibawah dan kita regroup untuk menuju etape berikutnya adalah gunung mas. Menuju kesana lintasan tidak terlalu istimewa alias sangat nyaman dilalui dengan kombinasi jalur yang berumput mengandung batu-batu kecil yang sudah tenggelam dan di akhir garis fnish Gn. Mas tersebut lintasan sedikit menanjak kurang lebih 100 meter. Satu demi satu rombongan dengan tergopoh-gopoh mengakhiri etape tersebut dan kita pun sebentar beristrahat sambil merenggangkan kaki dan minum-minum sambil ada cemilan kue coklat yang bisa mengembalikan stamina. Terdapat godaan untuk melahap mie ayam di depan mata tapi nasihat teman-teman untuk tidak melakukannya memang berbuah kebaikan.

Kurang lebih 15 menit kemudian kita gowes kembali menuju etape berikutnya yaitu Taman Safari. Kali ini lintasan sedikit kurang bersahabat alias nanjak dan satu-satu dengan sigapnya mengganti-ganti posisi gigi. Saya perhatikan bagi kawan-kawan yang sudah terbiasa gowes perpindahan giginya tidak terlalu siknifikan ke bagian yang paling besar tapi kalau untuk saya sebagai pemula tentunya gigi terbesar menjadi pilihan paling nyaman sehingga nafas bisa diatur untuk bersahabat sedikit.

Ditengah-tengah etape kita sepakat untuk berhenti sejenak sekedar merenggangkan kaki dan mengisi bahan bakar minuman karena setelah ini lintasan akan didominasi turunan asik menuju garis finis untuk etape Gn Mas ke Taman Safari. Tanpa lupa untuk berfoto-foto sambil istirahat akhirnya pasukan siap untuk menggeber sepedanya menuju lintasan turunan asoy tersebut hingga finish.

KAGET dan BINGUNG. Ya, itulah perasaan dari pemandangan yang saya lihat setiba di garis finish Taman Safari. Sekitar 15-an anak kecil berlari-lari menghampiri satu-satu dari kami berikut dengan sepeda motornya juga. “Ojek om? Ojek om?”, itu kalimat yang mereka tawarkan kepada kami semua. Sambil masih menyimpan rasa penasaran saya pun memarkir sepeda. Pelan-pelan sambil berbisik saya mulai bertanya kepada rekan yang sudah beberapa kali kesini.

Ternyata pasukan anak kecil tersebut menawarkan jasa ojek untuk menuju lintasan etape berikutnya yaitu N-1 alias Ngehe 1.
Etape selanjutnya adalah lintasan ektstrim dengan tanjakan curam sejauh kurang lebih 500 meter tanpa bonus alias tidak ada jalur ratanya hingga garis finis. Baiklah kalau begitu saya mulai mengerti maksud tawaran anak-anak tersebut. Persiapan kita cukup unik untuk mengarungi etape berikutnya adalah membeli bekal nasi bungkus di warung tempat kita istirahat, air minum tambahan hingga bungkusan bandrek pun kita siapkan. Bekal tersebut akan kita lahap pada saat kita finish di garis finis N-1 tersebut berupa sawung yang sangat sederhana. Menarik juga persiapannya. Tapi ingat jangan kebablasan bawa bekalnya karena kalau banyak bisa membuat beban malah bertambah dan mempengaruhi kinerja dengkul kita nantinya dalam menghadapi sang N-1.

Nasi setengah, ikan goreng dan teri kacang menjadi pilihan saya dan sebotol air putih dan saya pikir itu sudah cukup untuk mengganti kalori yang hilang pada saat tanjakan nanti. Setengah jam kemudian rombongan sudah siap dengan aneka persiapannya dan satu demi satu rombongan mulai menggowes menuju lintasa etape berikutnya yang menegangkan. Lepas dari garis start, anak-anak tersebut dengan gigihnya mengikuti kita satu demi satu tanpa lelah dan gigih menawarkan jasa ojek tersebut. Lumayan mengganggu konsentrasi karena selagi kita fokus gowes berpadu dengan napas yang ngos-ngosan anak-anak kecil tersebut tetap menggoda kita untuk menyerah saja dan memberikannya kepada mereka untuk dilanjutkan. Tapi karena sudah bertekat untuk mencapai target tanpa bantuan akhirnya saya berhenti dan memberikan sekedar uang sebesar lima ribu rupiah untuk minta tolong jangan diganggu lagi.

Akhirnya gowes bisa berlanjut dengan damai tanpa ada godaan lagi. Gigi paling besar di set untuk belakang dan gigi paling kecil di set untuk depan sehingga menghasilkan torsi yang paling besar untuk mengayuh sepeda di tanjakan curam yang kemungkinan hingga mencapai 45 derajat. Tentunya lintasan tersebut tidak bisa dilalui tanpa ada selingan istirahat sejenak beberapa kali khusunya bagi saya dan ternyata teman-teman juga mengalami hal yang sama. Setiap istirahat kita selingi dengan becanda saling mengolok-olok rekan lainnya berikut dengan aksi foto-foto lucu dari muka-muka yang kepayahan mengarungi penderitaan.

Selanjutnya, tibalah kita di garis finis etape N-1. Sawung sederhana yang sudah banyak bolong atapnya bagaikan sebuah tempat terindah bak hotel berbintang lima. Angin dingin berikut dengan kabutnya serta pemandangan luas benar-benar hadiah yang tak ternilai harganya. Nasi bungkus terasa sangat nikmat sekali bagaikan hidangan jamuan makan malam di hotel-hotel berbintang.
Bermenit-menit hingga satu jam kita menikmati suasana yang paling indah tersebut akhirnya kita memutuskan untuk melanjutkan petualangan. Karena selanjutnya lintasan tidak berubah masih dengan tanjakan curam dan berbatu atau lebih dikenal N-2. Yah, etape berikutnya adalah menuju titik paling tinggi dari perjalanan kita untuk selanjutnya dominasi turunan menjadi area bermain kita. Karena rombongan kita terdapat dua wanita yang sudah kehilangan tenaga pada saat di N-1 maka keputusan untuk membagi tim menjadi dua adalah sangat bijak sekali. Satu rekan laki-laki (Djuned) dari kami dengan berjiwa patriot menemani peserta wanita tersebut menuju garis finis yang sama dengan jalur N-2 tersebut .
Photobucket

Rombogan lanjut di etape N-2 tapi sebelumnya salah satu rekan kami (O’o) memiliki ide yang brilian yaitu menghidupkan musik dari telepon genggamnya sehingga memberi semangat kita untuk menggowes lintasan ekstrim tersebut. Hal yang sama seperti N-1, lintasan inipun kita lalui dengan semangat besar dan sekali-kali istirahat sambil bercanda. Sekitar 30 menit kemudian tibalah kita di titik tertinggi tersebut dan belok kanan maka terpampang didepan indahnya lintasan menurun tersebut walaupun jalurnya tidak mulus sekali bahkan boleh dibilang rusak.

Ternyata lintasan kecil yang memang cukup untuk pejalan kaki dan pesepeda dimanfaatkan juga bagi para penikmat motorcross sehingga jalur banyak yang rusak akibat putaran ban paculnya yang digerakan oleh mesin. Mereka memang tidak pernah terasa capai melintasinya tapi akibatnya adalah bagi pejalan kaki dan pesepada akan merasakan kepayahan melewatinya karena lintasan penuh dengan selokan-selokan yang dalam.
Photobucket

Sudahlah, kita nikmati saja apa yang ada lagian memang bagian dari petualangan adalah faktor yang tidak dapat diperkirakan dan salah satunya adalah jalur lintasan yang rusak ini. Satu demi satu kita melibas jalur rusak tersebut dengan berbagai macam gaya. Ada yang terjatuh dan terjerebab hingga menabrak pohon dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang boleh dibilang lucu juga karena memang masih dalam tahapan yang wajar. Walaupun kecelakaan tersebut bisa juga berakibat fatal apabila kita kurang berhati-hati.
Turunan demi turunan, apalagi turunan yang terkenal dengan istilah pyramid sangat nikmat sekali dilalui tanpa ada masalah. Lanjut menuju jalur berikutnya hingga tibalah kita di garis finis etape tersebut dan bertemu kembali dengan rekan lainnya yang sempat mengambil jalur alternatif.
Photobucket

Dengan cukup waktu untuk beristirahat, lalu petualanganpun memasuki etape terakhir yang akan didominasi turunan 90 persen dan beraspal pula. Wow….akhirnya turunan terakhir yang panjang tersebut akan bisa menjadi obat terakhir dalam perjalanan kita ini. Sebelum memulai jangan lupa untuk memakai kaca mata, ini penting karena jalur aspal tentunya akan melepas semua tanah-tanah yang menempel pada ban sepeda sehingga serpihan tanah tersebut tidak nyasar menuju mata kita.
Rombongan memulai gowesannya di etape terakhir ini dan saya langsung menggenjot dengan semangat hingga sekali-sekali sedikit melompati polisi tidur yang tiba-tiba membentang dihadapan saya. Jalur yang akan berakhir tepat di area tempat kita parkir mobil ini benar-benar bisa menjadi surga para penggila jalur down hill tapi sebetulnya berbahaya juga karena lintasan ini pesepada bercampur dengan kendaraan lainnya seperi mobil, motor, pejalan kaki jadi memang tidak aman untuk menggeber hingga maksimal jadi harus menahan diri untuk melalui jalur ini.

Urutan pertama tiba yaitu Djuned lalu saya mengikuti tepat dibelakangnya lalu Erwin, O’o, Tiki dan Meldi bersama Tiki. Selesai sudah petualangan sepeda dengan lintasan yang sudah melegenda dikalangan para penikmat sepeda, Rindu Alam a.k.a RA.

[Feldani Effendi]

About simulacra76

kelana jenggala | memotret & menulis untuk menghidupi anak istri, tapi suatu hari pingin juga jadi penjual kopi | meldamayanto@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: