1 Comment

++ Mengayuh Pedal, Menyapa Sobat, Menggali Ilmu ++

Oleh: Ferry Hakim

Kota Kembang – Bandung, Minggu pagi 18 Desember 2011.

Ada suasana yang sedikit berbeda di sekitar gerbang Ganesha. Sejak pukul 6 pagi  ratusan pesepeda seliweran dan berdatangan khas dengan berbagai gaya dan rupa. Corak ragam sepeda dengan berbagai warna dan kibaran umbul-umbul serta baliho yang berpadu dengan guguran keemasan daun-daun kering pohon damar dan akasia di sekitar gerbang Ganesha sekejap menghangatkan suasana pagi yang biasanya cukup menusuk tulang di bulan penghujung setahun masa. Ya, pagi itu hampir 140 orang pesepeda akan mengikuti sebuah konsep acara yang  mungkin baru pertama kalinya di adakan di Indonesia. Acara bertajuk ‘Gowes Bareng Geolog’ yang merupakan salah satu dari sedikit rangkaian mata acara yang terbuka untuk masyarakat umum dalam perhelatan Reuni Akbar Teknik Geologi ITB 2011.

‘Gowes Bareng Geolog’ sejatinya adalah sebuah sinergi perjalanan bersepeda MTB yang dipadukan dengan field trip geologi. Selain mendapatkan tantangan dan kenikmatan bersepeda menjelajahi alam bebas, peserta juga akan mendapatkan tambahan ilmu kebumian, baik itu tentang bentang alam (geomorfologi), kegunung apian (volkanologi), geologi struktur, hingga sejarah dan antropologi budaya yang di presentasikan pada stasiun-stasiun geologi tertentu.

Mungkin karena konsep acara yang unik dan edukatif tersebut, sehingga animo dari alumni, komunitas sepeda dan masyarakat umum sangat tinggi dan peserta membludak melebihi ekspetasi. Bahkan panitia harus menolak banyak calon peserta yang baru mendaftar menjelang hari-H. Peserta tertua yang tercatat berumur 70 tahun dan peserta termuda adalah 16 tahun dengan tingkat kemampuan bersepeda dan pemahaman geologi yang juga beragam, sehingga tak pelak Panitia harus bekerja dan mempersiapkan semua kemungkinan dengan hati-hati. Akhirnya dengan diperkuat 15 orang marshall dan sweeper, 2 evac car, 1 ambulance + dokter dan paramedik, 1 support car 4WD dan 2 motocross, acara gowes pun mantap digelar.

Setelah registrasi dan pengecekan sepeda usai, tepat pukul 7:15  pagi, 9 buah pick up L 300  dan 12 buah minibus menderu meninggalkan kampus menuju starting point di Gunung Tangkuban Perahu. Perjalanan relatif singkat karena jalanan yang belum terlalu ramai pagi itu hingga akhirnya kami sampai pada elevasi 1900 mdpl tepat di bibir Kawah Ratu. Aroma khas belerang semilir terbawa angin pagi menyambut kami di sana. Kawah Ratu dibawah sana nampak demikian anggun secantik namanya di pagi itu. Kawah terbesar dari 13 kawah lain yang ada di komplek Gunung Tangkuban Perahu itu terlihat jelas sampai ke dasarnya. garis-grais lerengnya yang tegas bermuara pada sejejak asap volkanik yang menyembur perlahan dari dasarnya untuk kemudian perlahan-lahan tersamar dihembus angkasa raya.  Udara yang sejuk dan langit biru yang terkadang menghilang tergantikan arsiran kabut tipis di atas sana benar-benar menjadi awal perjalanan yang sempurna.

Setelah kupasan materi geologi Mas Budi Brahmantyo dan briefing singkat teknik bersepeda, maka dengan diawali menyebut nama Sang Khalik dimulailah perjalanan hari itu. 138 pasang roda sepeda yang terbagi dalam 3 group berpita biru, perak dan ungu mulai bergerak menapaki trek menurun menuju stasiun geologi ke-2 di Gunung Putri.  Kadar oksigen yang tipis cukup terasa saat menghirup udara. Untunglah pada etape ini hampir seluruh trek menurun, sehingga semua peserta bisa melewatinya dengan baik. Saat mulai masuk ke area hutan dengan jalan tanah, barulah petualangan yang sebenarnya dimulai. Jejak hujan semalam terlihat jelas meninggalkan kubangan-kubangan kecil berpadu dengan embun yang masih belum kering tersapu mentari pagi.  Bau khas tanah basah dan humus tercium semerbak bagaikan aromaterapi alami yang selalu dinanti para petualang alam bebas sejati. Sebagian dari kami terkadang terjebak lumpur, sedikit terpeleset atau tergores onak duri. Namun bukan sakit dan sesal yang datang, justru canda tawa dan senyum dari sahabat menjadi obat penawar hati. Sekira sejam kemudian, kami berjibaku di dalam hutan sampai akhirnya seluruh rombongan sampai di Stasiun geologi Gunung Putri.

Dari titik ini, morfologi dataran Lembang, patahan Lembang dan Cekungan  Bandung di kejauhan tampak jelas. Mantan danau purba itu, kini menjelma menjadi hamparan beragam warna. Hamparan itu terkepung beratus gunung dan bukit. Gunung Burangrang, Gunung Tangkubanparahu,Gunung Bukit Tunggul, Gunung Palasari, Gunung Manglayang, Gunung Bukit Jarian, Gunung Geulis, Gunung Mandalawangi, Gunung Malabar,Gunung Patuha,  Gunung Kendeng, Perbukitan Selacau, Gunung Lagadar, dan Gunung Bohong berderet melingkari hamparan tersebut. Gunung-gunung itu membuat Bandung berada dalam cekungan, tak ubahnya seperti sebuah mangkuk raksasa, dan di dasar mangkuk itulah Kota Bandung bertumbuh.

Usai memberikan materi geologi, panitia mengadakan kuis tanya jawab. Seluruh peserta sangat antusias menjawab pertanyaan, sehingga dalam waktu singkat sebuah buku tentang Cekungan Bandung karangan Mas Budi sendiri dan sebentuk batu mulia dari Mang Okim pun berpindah tangan kepada peserta yang tampak sumringah puas mendapatkan hadiahnya.  Perjalanan pun dilanjutkan menuju etape berikutnya di stasiun geologi ke-3 di Gunung Batu, Lembang.

Pada etape inilah para peserta diuji kesabaran dan emosinya karena ini adalah etape dengan satu-satunya rute tanjakan yang ada layaknya etape Alps dalam Tour de France ataupun etape Piedmonte dalam Giro d’ Italia. Tanjakan dimulai dari dasar lembah sungai desa Sukamaju dengan kemiringan melandai hingga sedikit-demi sedikit bertambah terjal hingga puncaknya mendekati kaki Gunung Batu sejauh hampir 2 km non stop. Banyak peserta yang kuat mengayuh diatas pedal hingga puncak tanjakan, namun banyak pula yang terpaksa turun dan menuntun sepedanya untuk selanjutnya melangkah semeter-demi semeter menapaki tiap jengkal tanjakan tersebut. Nafas kian tersengal dan dengkul mulai bergetar, namun seorang rekan menolak dengan halus pada saat kami tanya apakah perlu bantuan. Beliau bahkan sempat berbisik pada saya, “Asalkan dengan kawan,…apapun terasa nyaman”.

Di Gunung Batu di lakukan rehat besar dan pembagian jatah buah-buahan. Duduk menghampar di rerumputan sambil memandang bongkah andesit Gn. Batu yang menjulang serta menikmati manisnya jeruk dan pisang seraya mendengarkan materi ilmu pengetahuan sungguh sebuah kelas terbaik yang bisa kita dapatkan dalam memahami setiap mili ciptaan Illahi.

Seusai pit stop Gunung Batu stasiun geologi terakhir yang kami tuju adalah di Lembah S. Cikapundung Maribaya. Rupanya setelah cukup istirahat dan mendapatkan pasokan energi, para peserta menjadi sedikit kesetanan dalam memacu jalur turunan batu andesit dan paving block, sehingga stasiun geologi berikutnya harus digeser menjadi di depan pintu masuk Goa Belanda. Goa yang menurut Mas Budi lebih tepat disebut terowongan tersebut pun menjadi saksi diabadikannya seluruh peserta dalam sesi group photo disana.

Etape terakhir dari Goa Belanda, Dago Pakar menuju kembali ke kampus ITB menjadi penutup menu bersepeda kami hari itu. Meliuk-liuk di tengah kemacetan Pasar Simpang Dago dan deretan factory outlet yang akut terjadi setiap akhir pekan di Bandung pun mengantar kami semua kembali menjejak gerbang Ganesha 10 pukul 13:30 siang.

Acara pun ditutup dengan makan siang, ramah tamah, pembagian door prize dan pemberian sertifikat kepada seluruh peserta yang telah berhasil melewati 25 km trek dari kawah Tangkuban Perahu ke Kampus ITB. Badan yang lelah namun sumringah membias pada wajah-wajah peserta yang nikmat melahap nasi timbel dan lalap.

Saya pribadi patut berbangga karena untuk kali pertama dalam karir bersepeda ditemani oleh  doktor-doktor pakar ilmu kebumian ITB di bidangnya masing-masing.  Selain Mas Budi Brahmantyo  yang ahlinya geologi terapan, ada juga Mas Mino jawaranya geologi struktur, Mas Khoiril ahlinya dunia per-keongan paleontologi, dan Mas Nuki pakarnya sedimentologi. Dengan peserta sekaligus narasumber sekaliber mereka, sehingga tak berlebihan kalau acara gowes kemarin layak juga masuk MURI sebagai Trip Sepeda Paling Edukatif di Indonesia. Hebatnya lagi semua pakar-pakar di bisa lulus uji sampai finish melahap jalur tersebut. Salut.

Selamat dan terima kasih untuk semua Panitia, alumni, para sponsor dan Gea yang sudah membantu terlaksananya acara tersebut. ‘Gowes Bareng Geolog’, sebuah trip luar biasa bersama kawan-kawan yang tak kalah luar biasanya….

Geologi bagi Negeri…Berkarya untuk Bangsa. Sampai jumpa di trip berikutnya

1..2..3….Gea !!

Salam

FH – Trip Leader Gowes Bareng Geolog 2011

Leave a comment

++ Sepeda dan Sahabat di Telaga Warna ++

Oleh: Ferry Hakim

 

 

Sebuah sketsa alam terpampang di pelupuk mata. Sebentuk telaga kecil yang airnya makin surut di sesap kemarau dan tergantikan semak2 perdu. Bukit2 teh berpunuk-punuk terbentang hingga kejauhan sementara di belakangnya Gede-Pangrango gagah menjulang menembus langit biru terang. Sungguh sebuah sketsa yang memanjakan mata di Sabtu pagi yang luar biasa cerah itu.

Setelah briefing singkat, 18 pasang roda sepeda yang dikayuh pesepeda lintas usia – yang pernah dipersatukan dalam sebuah benang merah bernama Geologi ITB – mulai menjejak Perkebunan Ciliwung melewati ujian pertama sebuah trek berbukit menanjak melandai hingga pos pertama di tikungan saung 1. Tanpa banyak rintangan kami sampai di stop point pertama, sebuah rehat kecil pun digelar untuk sesi foto bersama. Lokasi ini memang sangat ideal karena merupakan elevasi tertinggi dari keseluruhan trek Telaga Warna 1. Ke arah utara terhampar karpet kebun teh Perkebunan Ciliwung, sementara pandangan ke selatan didominasi komplek volkanik Gede-Pangrango.

Section berikutnya adalah jalur berundulasi naik-turun menyisir kebun teh dan melewati sebuah telaga kecil. Walaupun nafas mulai tersengal, tetapi akhirnya seluruh peserta sukses mencapai jalur yang di akhiri dengan sebuah tanjakan ini yang berujung di SDN Tjikoneng. Salut dan angkat topi kepada semua  Gea, yang walaupun baru pertama ber offroad ria, tapi semangatnya luar biasa. SD Tjikoneng ini adalah satu2nya sekolah di perkebunan Ciliwung ini. Terletak terpencil  persis di batas hutan, dan menaungi murid2 dari 4 desa sekitarnya. Dari desa2 sekitar para murid ini harus menempuh jarak 3 sampai 5 km untuk ke sekolah dan satu-satunya angkutan adalah truk pengangkut teh yang datang pergi setiap pagi dan siang. Sekolah ini didirikan oleh Pak Rudi yang dulunya hanya seorang tukang parkir dan tukang jualan jagung bakar yang prihatin melihat tidak adanya sekolah untuk anak-anak ini. Maka hanya dengan modal terbatas ia nekat mendirikan sekolah yang akhirnya diakui oleh pemerintah sebagai kelas jauh SD Ciburial yang sesungguhnya  yang berjarak 20 km dari Cikoneng tersebut. Atas jasa2 nya Pak Rudi yang kini menjadi guru sekaligus kepala sekolah disana mendapat penghargaan dari pemerintah dan pernah diundang di acara Kick Andy-Metro TV.

Usai rehat besar dengan iringan celoteh ramai murid-murid Cikoneng yang kebetulan pas bubaran sekolah, kami pun melanjutkan perjalanan. Namun sebelumnya kami mendapat kabar bahwa jalan perkebunan di depan sana terputus karena longsor, sehingga support dan evacuation car tidak bisa mengikuti perjalanan dan harus balik arah ke jalan raya. Berarti ini adalah titik dimana peserta harus memutuskan, sekali pedal dikayuh pantang mundur kebelakang. Dan rupanya semua goweser mantap untuk lanjut terus tanpa didampingi support car. Kamipun lanjut melahap jalur mayoritas turunan dengan permukaan makadam hingga akhirnya sampai di pertigaan batas hutan. Rencana awalnya, mengingat adanya beberapa MTB-ers pemula,  kami hanya akan melipir jalan perkebunan. Tapi saya salah, ini GEA bung ! Saat diberi pilihan jalur yang mudah atau yang menantang, kami sepakat menunjuk lurus ke dalam hutan. Maka, kamipun mulai menyusuri jalur setapak singletrek tanah masuk ke dalam hutan pinus.

Disinilah tantangan terbesar yang harus dilewati para goweser. Jalur tanah sempit yang menurun curam dihiasi dengan lika liku pohon pinus dan akar2 melintang plus jurang curam di sisi kanan praktis membuat seluruh konsentrasi terfokus dan harus ekstra waspada. Walaupun sudah berkali-kali peringatan untuk berhati2 dikumandangkan, namun akhirnya kejadian juga saat Edo terpaksa kehilangan handling dan jumpalitan sekian meter dengan sedikit ‘oleh-oleh’ di ujung bibir. Setelah sedikit evaluasi dan pemeriksaan, ybs masih mantap untuk melanjutkan, maka perjalanan dilanjutkan hingga akhirnya kami semua lolos dari tantangan jalur curam hutan pinus.

Seksi terakhir perjalanan ini adalah bonus jalur menurun keluar masuk kampung, gang-gang kecil, anak2 tangga dan persawahan hingga akhirnya tembus kembali di Jalan Raya Puncak untuk kemudian finish di Raffles Resto. Sepiring Nasi Timbel komplit diiringi hiburan musik oleh penyanyi yang aduhai menjadi hidangan penutup acara hari itu. Terngiang pula petuah pak Waketum – Ula ’83 sebelum pulang, “..perlahan tapi pasti dan terus menerus akan terbangun solidaritas dan kebersamaan serta kepedulian sesama alumni dlm membangun negeri… teruskan..”.

SEPEDA dan SAHABAT …..dua kata yang berbaur menjadi kenangan yang mewarnai benak kami hari itu.

 

Sampai jumpa di gowes bareng berikutnya….

 

salam

Batavia, Oktober 2011

 

FH

 

http://www.youtube.com/watch?v=w0fmKTNAxGE

Leave a comment

++ Sepenggal Sketsa Sederhana dari Pdk. Pemburu ++

Pondok Pemburu, sebuah nama yang bisa menggetarkan jiwa. Setiap yang mendengar namanya tentu akan dengan mudah mengkonotasikannya sebagai sebuah tempat yang penuh kekerasan, banyak tantangan, berhiaskan halang rintang, dan penghuninya adalah banyak orang dengan naluri pencabut nyawa.  Namun realitas mengatakan lain saat kami berbelas-belas menyambangi tempat itu akhir pekan kemarin. Bagi kami Pondok Pemburu adalah sebuah surga kecil di tengah hutan belantara, sebuah oase kaki gunung yang menjanjikan harapan sekaligus memberikan kekuatan untuk mengiringi derap roda perjalanan hingga selesai dengan membawa banyak kenangan.

Tentunya kita tahu, selalu ada sebuah awal mula. Hitungan senantiasa bermula dari angka pertama. Setiap pencapaian mustahil datang secara instan. Dan seperti biasa, sebuah petualangan selalu berangkat dari hal-hal sederhana. Dengan diawali sebuah doa, sejejak jalan aspal setengah menanjak mengantar deru nafas kami yang pertama. Tetapi bahkan di rute pembuka ini pun kita sudah merasakan hangatnya nostalgia. Angin pagi yang menerpa langsung muka, cahaya matahari mengusap kulit, tegur sapa kawan lama, cipratan air dari genangan pinggir jalan, dan seluruh renik kehidupan yang kami jumpa, semuanya menciptakan perbedaan dari rutinitas hari-hari sebelumnya.

Medan semakin berat saat tapak muka aspal berganti jalur tanah yang tetap menanjak. Bias-bias air sisa hujan semalam menambah tantangan akibat licinnya tanah vulkanik merah. Namun itu belum seberapa ternyata, semakin ke depan, jalur makin menantang. Tanjakan semakin terjal, tanah merah berganti dengan lempung, lanau dan batu pasir kehijauan bagian dari Formasi Cisubuh yang lapisannya hampir tegak. Beberapa pit stop dadakan pun digelar sekedar untuk memberi jeda jantung dan otot paha. Dan puncak tantangan kami yang sebenarnya adalah beberapa ratus meter menjelang Pondok Pemburu, dimana bongkah2 andesit sebesar kepala menyeruak di hamparan permukaan trek yang tetap menanjak. Maka tak ada satupun yang bisa bertahan di atas roda, semua kompak mendorong sepeda bak dikomando satu suara. Suara nafas dan bunyi  tapak kaki menjadi panduan kami di tengah rimba. Setiap tarikan nafas yang mengisi celah dan relung paru berongga serasa sangat berbeda dengan udara Jakarta. Tiap meter elevasi yang berhasil diraih adalah refleksi pencapaian diri dan serasa memberi tambahan energi. Hingga akhirnya sebuah atap pondokan terlihat di kejauhan. Ya itulah Pondok Pemburu tujuan kami.

Sebuah rumah kayu semi panggung nan asri di tengah belantara. Ia nampak bersahaja dilingkari pegunungan lebat yang hijau. Halamannya luas dengan hamparan rumput hijau yang terawat. Di beberapa tempat menyembul bongkah2 andesit menjadikannya sculpture alami nan unik. Beranda panggungnya cukup luas untuk tempat kami semua merebahkan diri melepaskan penat. Cahaya matahari sepenggalah melukiskan bayangan kita pada dinding rumah kayu. Suara serangga, gemericik air pegunungan dan gerak daunan perdu karena hembusan angin itu telah membentuk orkestra alam yang tak terkira.  Betapa syukur tak habis-habis karena pesona semacam ini bisa kami nikmati dengan leluasa. Gratis. Bahwa setelah ini laju sepeda kami akan kembali tersendat-sendat, tak ada keluhan untuk itu. Pak Yus, pemilik rumah itu sangat ramah, seteko teh manis hangat terasa nikmat, beliau bahkan memasak stok 4 bungkus  mie instant terakhir untuk kami yang kelaparan. Sebuah ketulusan yang mengagumkan.

Setelah cukup rehat, kini seluruh pancaindera kami mampu mencecap dan menafsir denyut kehidupan dengan lebih jernih. Dengan keriangan yang menakjubkan, perjalanan dilanjutkan. Dan ternyata sisa perjalanan hari itu adalah bonus turunan tak terkira sampai titik akhir. Roda-roda kami berputar cepat melahap jalur turunan dari Pondok Pemburu-Megamendung yang beralaskan bebatuan, tanah, singletrek, makadam, aspal rusak dan berbagai variasi yang bahkan kami pun lupa karena  terlalu asyik menikmatinya. Gradasi hutan belantara, rerimbunan pinus, semak dan perdu, kebun-kebun singkong, sawah bertingkat, perkampungan pinggir kota mengantar kami hingga kembali menyentuh peradaban modern Sentul City. Lebih dari 30 km turunan non stop yang 100% gowesable menjadi puncak ekstasi kami hari ini. Etape terakhir menyusuri jalan desa di pinggir tol Jagorawi ke arah Ibukota menambah senyum kami melihat ribuan lampu mobil yang terjebak macet memanjang tak putus-putus menuju Puncak. Cahayanya menyusun formasi kedip-kedip yang masuk menyelinap dalam gerimis berkabut. Sebuah cerminan kesumpekan dan keresahan para penumpangnya yang berdenyar-denyar memburu sepercik jeda di luar kota. Sebuah “luar kota” yang kadang absurd. Sebab kini mereka kembali bergulat dengan sesuatu yang ingin mereka tinggalkan: kemacetan, keramaian dan ketergesaan. Sementara kami sudah kembali bersiap pulang bersua dengan sanak keluarga dan handai taulan.

Engkau tahu kawan, ketika sampai kembali di rumah, kita telah menempuh perjalanan ‘hanya’ 40 kilometer. Tetapi ini adalah perjalanan penuh gelak tawa, cerita dan nostalgi laksana petualangan-petualangan lain yang sudah (dan akan) terjadi lagi.

salam

Batavia – Penghujung Mei 2011
FH

2 Comments

Gowes Gilss Puncak – Sentul, sabtu 4 Des 2O1O

Tremans…

Mari kita kumpul lagi dan genjot ke trek yang relatif baru dgn detil sbb :

Hari  : Sabtu, 4 Desember 2010
Trek : Puncak – Sentul via Sukamakmur (dikenal jg dgn Puncak jalur belakang)
Jarak : 54 km
Kondisi trek : 80% turunan, 10% datar, 10% tanjakan
Meeting point :  Star Deli Cafe, Sentul City, Sentul Selatan jam 7 pagi
Estimasi finish : Jam 4 sore 

Terus terang secara teknikal jalurnya tidak susah, trek-nya akan lebih banyak menyusuri jalan2 kampung dan macadam bekas jalur  lama Jakarta ke Cianjur peninggalan jaman Belanda dahulu. Tapi karena jalur yang dilewati gak populer, jadi mohon ‘expect the unexpected’.

Juga jarak tempuh yg lumayan ditambah jalur naik turun yg berganti2 krn kita akan memotong banyak punggungan, maka kesiapan fisik sudah sepantasnya. Yang jelas, pemandangannya ciamik dgn latar belakang perpaduan desa dan sungai2 jernih yg lewat diantaranya menunggu utk disambangi.

Selain assesoris standar (helmet, glove dan eye protector), perlengkapan wajib bawa lainnya:
- ban dlm cadangan
- lampu sepeda
- jas hujan
- uang secukupnya

Monggo merapat..
lamsalam
Ferry Hakim

Posted with WordPress for BlackBerry.

1 Comment

Bukit Tunggul Ride , Sabtu 7 Agustus 2010

Rekan2 genjoters,

Sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, ada baiknya kita bersilaturahmi dan menyambutnya dengan sebuah epic ride di Tatar Parahyangan.

Sabtu, 7 Agustus 2010 rencananya akan ada trip genjot lagi. Kali ini kita kembali akan meng-eksplor daerah Bandung Utara, tepatnya di Pegunungan Bukit Tunggul – Palasari.

Detil rutenya sbb:
Start : Desa Palintang, Palasari
Finish : Dago, Bandung sekitar jam 3 siang.
Jarak tempuh :+/- 35 km
Kontur : 70% turunan, 30% tanjakan
Gathering point :  Jl. Dayang Sumbi, ITB Belakang @ 07.00 pagi
Tingkat kesulitan jalur ini termasuk intermediate, dengan pemandangan yang luar biasa indah.

Jadi monggo…silahkan merapat..

salam
FH

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a comment

Sabtu 3 Juli: Gowes Telaga Warna II Jalur Setan

Genjoters,

yang mau ikut genjot, besok Sabtu kita ke Jalur Agricon / TW 2.

Jalur ini punya section hutan pinus yg lebih panjang dibanding jalur TW1 plus terkenal dengan situs kuburan megalitik -nya di tengah hutan shg dikenal jg dengan nama ‘jalur setan’

so, yang mau bergabung, monggo merapat. spt biasa di Gadog jam 7 ya..

FH

Leave a comment

Minggu, 6 Juni – Puncak Ride

Genjoters

Berhubung badan dah kaku2 krn lama gak gowes, otak dah beku kebanyakan gawean dan paru-paru pun membatu teracuni polusi jalanan Ibukota, rencananya gw mau gowes ke Puncak (entah TW atau RA).

Jadi, siapa yang mau gabung gowes ke Puncak..monggo. Boleh kumpul langsung di Gadog jam 7 pagi, atau yg mau ikut gw juga bisa krn mobil gw masih bisa nambah 1 sepeda lagi.

lamsalam
FH

*info lanjut:
Via twitter: @simulacra76
Via YM : nefeshaya

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.